Showing posts with label foto. Show all posts
Showing posts with label foto. Show all posts

1.4.12

ulos ragi hotang

foto dok. http://rumabatak.blogspot.com/

Ulos Ragi Hotang umumnya berlatar belakang warna cokelat tua dengan garis-garis halus berwarna putih. Di antara garis putih itu diisi hiasan garis putus-putus yang dibuat dengan teknik ikat lungsi.

Ulos Ragi Hotang biasanya diberikan kepada sepasang pangantin. Ulos ini juga biasa disebut dengan Ulos Hela. Pemberian ulos ini bertujuan agar ikatan batin kedua pengantin dapat teguh seperti rotan (hotang). Cara pemberiannya adalah dengan menyampirkan ulos dari sebelah kanan pengantin laki-laki setinggi bahu terus sampai ke sebelah kiri pengantin perempuan. Ujung sebelah kanan dipegang oleh pengantin laki-laki dan ujung sebelah kiri dipegang oleh pengantin perempuan. Lalu disatukan di tengah dada seperti terikat. Bagi masyarakat Batak, rotan dianggap sebagai tali pengikat sebuah benda yang dianggap paling kuat dan ampuh. Falsafah inilah yang dilambangkan dalam ulos Ragi Hotang. Singkatnya Ulos Ragi Hotang dipakai oleh mereka yang sudah menikah.

27.3.12

sejarah ulos batak (history of ulos batak)


dok. rumabatak.
Zaman dahulu ulos digunakan sebagai pakaian sehari–hari, baik oleh kaum pria maupun wanita. Bagi kaum pria ulos dipakai untuk menutupi bagian bawah yang disebut dengan singkot dan tali–tali/ detal bila digunakan sebagai penutup kepala. Sementara bagi kaum wanita ulos digunakan untuk menutupi tubuh. Bagian dada sampai mata kaki disebut baen, ampe–ampe bila digunakan sebagai selendang, dan saong sebagai penutup kepala. Selain itu, ulos juga kerap digunakan sebagai selimut maupun alat menggendong. Panjang ulos bisa mencapai sekitar 2 meter dengan lebar 70 cm. Biasanya ditenun dengan tangan oleh perempuan batak di bawah kolong rumah. Butuh waktu berminggu–minggu hingga bulanan untuk menyelesaikan satu ulos, tergantung tingkat kerumitan motif.

Sejak datangnya pengaruh bangsa barat melalui para misionaris dan kolonial Belanda, penggunaan ulos dalam keseharian mulai ditinggalkan, termasuk dalam tata cara berbusana kecuali pada acara–acara tertentu. Dalam perkembangannya, selain digunakan sebagai pakaian sehari–hari ulos juga digunakan sebagai perantara pemberi berkat dari seseorang yang dihormati. Karena itu di kalangan orang batak dikenal istilah mangulosi yang artinya memberi ulos. Dalam aturan mangulosi yang boleh melakukannya adalah mereka yang dalam kekerabatan berada di bawah orang yang mangulosi. Misalnya, orang tua mangulosi anaknya, tapi anak tidak boleh mangulosi orang tua. Dan saat mangulosi ada jenis-jenis ulos tertentu yang digunakan. 

19.3.12

ulos ragi idup

ulos ragi idup
Banyak orang menilai bahwa ulos ragi idup dinilai adalah ulos tertinggi dalam suku batak, setingkat di bawah ulos jugia. Ulos ini digunakan dalam upacara duka cita juga upacara suka cita. uniknya lagi, ulos ini bisa di[akai oleh raja dan masyarakat. Ragi idup juga dipakai oleh suhut si habolonan (tuan rumah). Ini yang membedakannya dengan suhut yang lain, yang dalam versi Dalihan Na Tolu disebut sebagai dongan tubu.

Bila pada umumnya ulos dikerjakan secara perorangan, maka lain halnya dengan ulos ragi idup. ulos ini bisa dikerjakan dengan bergotong royong dan terpisah. Kedua sisi ulos kiri dan kanan (ambi) dikerjakan oleh dua orang. Kepala ulos atas bawah (tinorpa) dikerjakan oleh dua orang pula, sedangkan bagian tengah atau badan ulos (tor) dikerjakan satu orang. totalnya ada lima orang yang mengerjakan ragi idup. Kemudian hasil kerja kelima orang ini disatukan (diihot) menjadi satu kesatuan yang disebut ulos “Ragi Hidup”.

Agaknya Anda bertanya, mengapa pengerjaan ragi idup berbeda dengan ulos-ulos lainnya. Hal ini disebabkan ulos ragi idup yang harus selesai dalam waktu tertentu menurut hatiha batak (kalender batak). Bila dimulai artia (hari pertama), maka harus selesai di tula (hari tengah dua puluh).

Pada upacara duka cita (orantua meninggal), yang mengenakan ulos ini ialah anak sulung dan anak lainnya mengenakan ulos sibolang. Ulos ini juga sangat baik bila diberikan sebagai ulos Panggabei (ulos saur matua) kepada cucu dari anak yang meninggal. Pada saat itulah nilai ulos ragi idup sama dengan ulos jugia.

Pada upacara perkawinan, ulos ini biasanya diberikan sebagai ulos Pansamot (untuk orang tua pengantin laki-laki). Ulos ini tidak bisa diberikan kepada pengantin oleh siapa pun. Di daerah Simalungun ulos ragi idup tidak boleh dipakai oleh perempuan.